ABG itu akhirnya tiba di depan rumah. Setelah dua hari
sebelumnya menelpon meminta waktu bertemu. “Pak Fikri, ada waktu nggak, aku mau
maen ke rumah, bisanya kapan.” nada berharap terdengar di BB. “Saya sedang di
Jogja nih, Insya Allah malam Rabu saya bisa, datang aja.” Jawabku waktu itu.
Wajahnya tak jauh berbeda ketika setahun yang lalu kita
bertemu. Lebih tinggi dari saya sekarang. Itulah yang sangat kentara
perbedaannya. Anak sekarang memang pada “bongsor” ya gumam saya dalam hati.
Siapa
yang tak kenal Ternate. Ternate adalah nama pulau sekaligus nama kota
yang terletak di kepulauan Maluku (Moluku atau Moluccas dalam bahasa
Inggris) Indonesia bagian timur. Tepatnya di sebelah barat dari
kepulauan Halmahera. Pulau Ternate didominasi oleh Gunung Vulkanik
Gamalama (1715 m). Kota Ternate tepatnya berada di lokasi 0°47'N
127°22'E .
"Ayah aku pake sandal aja ya!” Pinta Sahila putri ke 2 ku. “Aku yang bawa minum ya yah,” usul Karima si bungsu. Kata-kata itu biasa muncul sebelum kegiatan bersepedaku bersama anak-anak.
Ternyata
banyak sekali manfaat bersepeda bersama keluarga. Tak sekedar sehat
secara fisik, juga bernilai rekreatif. Yang lebih menarik adalah dengan
bersepeda ternyata dapat membentuk karakter anak.
Bencana selalu saja menyisakan duka. Bisa karena kehilangan orang
yang dicintainya atau kehilangan harta benda yang diperolehnya dengan
susah payah.
Meregangnya nyawa akibat bencana menjadi fenomena menarik, terutama
bagi kalangan media. Bad news is a good news nampaknya dijadikan
pembenaran sesaat.
Dalam sebuah studium general
di kampus calon guru seorang nara sumber pernah menyampaikan data bahwa
hanya 23 % lulusan kampus di bilangan Rawamangun itu yang kemudian
berprofesi menjadi guru. Jadi apa, sisanya ? sebagai salah seorang almamater dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) tersebut saya sendiri cukup penasaran dengan data tersebut.